akal Buku

BERGAUL DENGAN SESAMA
Tanyalah kepada orang Rembang dan sekitarnya secara acak—boleh kiai pesantren, “cina” klontong, tukang cukur, bakul ikan, kernet colt, pegawai pemda, penggali kubur, tukang jam, penjual serabi, bupati, tukang becak, atau siapa sajalah—pasti tahu siapa Kiai Basyuni atau Mbah Basyuni. Tidak itu saja. Orang yang Anda tanyai akan menunjukkan sikap semacam bangga, atau paling tidak gembira.
Kiai Basyuni memang mirip tokoh dongeng di Rembang. Dia kenal siapa saja dan dikenal siapa saja, karena hobinya menyapa orang.
Kehidupan sehari-hari-nya ditandai dengan shalat Subuh, lalu jalan-jalan. Disinggahinya rumah-rumah famili dan kenalannya, terutama anak-anaknya, sekadar menengok dan menanyakan keselamatan dan kesehatan mereka. Lalu ke rumah sakit, menyusuri los-los. Ini dilakukan hampir setiap hari, sehingga hampir tak ada sanak-famili atau kenalan yang sakit yang tak diketahuinya, untuk ditengoknya dan diinforrnasikan kepada yang lain.
“Kau sudah menengok si Fulan?” adalah pertanyaan klisenya yang dihafal hampir semua orang. Dia membangun mushalla di samping—dan jauh lebih cantik dari—rumahnya. Banyak tetangga, terutama para ibu, yang kemudian “meramaikan” mushala-nya.
Namun sejauh itu, kendati banyak yang meminta, Kiai Basyuni belum kunjung memberi pengajian agama kepada mereka. Padahal rata-rata mereka masih sangat awam di bidang agama, bahkan banyak yang shalatnya masih rubuh-ruhuh-gedhang, asal ikut.
Ketika hal itu ditanyakan kepada Kiai Basyuni, jawabannya selalu, “Biarkanlah mereka senang dulu dengan tempat ibadah mereka ini.”
Kalau ada yang bertanya, “Shalat saya sudah benar, Kiai?” selalu jawabnya, “Sudah, tinggal menyempurnakan sedikit. Nanti, kan, sempurna juga.”
Ketika bulan Juli 1989, Kiai Basyuni sakit dan dirawat di rumah sakit, petugas di sana kerepotan oleh banyaknya pengunjung yang ingin menengoknya setiap hari. Setiap jam besuk, beliau seperti sengaja menggagah-gagahkan diri dan selalu mengatakan kepada para penengoknya, “Alharndulillah, saya sudah sembuh. Bagaimana kabarmu? Keluargamu baik-baik saja, kan?”
Kepada keluarga yang menungguinya, beliau berkata, “Wah, saya telah merepotkan orang banyak.” Dan suatu ketika, kepada salah seorang anaknya, beliau berkata, “Kau kok menunggui aku terus di sini, lalu bagaimana suamimu, anak-anakmu? Pulanglah!”
Dan suatu hari, ketika hampir semua anak-anaknya berkumpul menungguinya bersama ibu mereka, Kiai Basyuni dengan suaranya yang sudah melemah berkata, “Kalian tahu, sebenarnya saya ini sakit sudah sejak lama, tetapi saya sembunyikan karena saya tak ingin menyusahkan orang. Ini prinsip hidup saya. Kalau bisa, senangkanlah orang. Kalau tidak, sebisa-bisa jangan menyusahkan orang.”
Semuanya paham benar, karena ucapannya itu hanyalah penegasan semata dari cara hidupnya yang telah mereka ketahui selama ini.
Hari Jum'at, persis seperti yang diinginkannya, Kiai Basyuni pergi untuk selama-lamanya. Sowan ke hadirat-Nya. Yang bekerja di RSPD (radio Pemda), yang punya “orari”, yang berdagang di pasar, yang menjadi sopir atau kernet, semuanya dengan sukarela membantu keluarga menginformasikan kewafatannya.
Orang-orang pun berdatangan dengan sendirinya, ada yang menawarkan kain kafan, nisan, jasa menggali kubur, kendaraan telepon, dan bantuan-bantuan lain yang biasa diperlukan pada saat duka seperti itu.
Pada hari pemakamannya, orang bisa melihat para pelayat dari segala lapisan. Mulai para kiai, pegawai, tukang, bakul, nelayan, petani, pejabat, dokter, dukun, hingga pengangguran. Berpuluh kali jamaah shalat jenazah dilakukan, sebelum orang berebut memikul kerandanya menuju peristirahatannya yang terakhir.
Kiai Basyuni berhak mendapatkan penghormatan semacam itu karena orang mencintainya. Orang mencintainya karena dia mencintai mereka. Orang bersedia susah untuknya justru karena dia suka menyenangkan mereka. Mereka mendoakannya dengan tulus. Jadi berbahagialah Kiai Basyuni.
Setiap kali orang meninggal, setiap kali pula kita mendapat pelajaran. Kafa bilmauti wa'izhan, cukuplah kematian sebagai penasihat pemberi pelajaran. Maka benar kata seorang yang melayat Kiai Basyuni, “Dia itu guru ketika hidup dan ketika mati.”
*Dari buku “Saleh Ritual Saleh Sosial” karya Gus Mus (K.H Mustofa Bisri).
- - - - - - -
Buku bisa dipesan melalui Akal Buku. Harga Rp60 ribu.

Komentar