Keahlian
Semua
mencoba untuk memberikan anak-anak terbaik untuk hadiah. Anak-anak kita bisa
mengerti dengan benar, di dalamnya mereka menemukan relawan cinta dan kasih
sayang.
Syukur adalah relawan kami, untuk menciptakan contoh peran di depan masyarakat, di Bangladesh ini untuk kampanye kemanusiaan.
[foto diambil dari dhaka minggu ini, di antara setengah ratusan anak-anak dijual dalam tingkat ini.
Syukur adalah relawan kami, untuk menciptakan contoh peran di depan masyarakat, di Bangladesh ini untuk kampanye kemanusiaan.
[foto diambil dari dhaka minggu ini, di antara setengah ratusan anak-anak dijual dalam tingkat ini.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Fasli Jalal mengungkapkan, setiap tahun lebih dari 1 juta lulusan perguruan tinggi tidak terserap dunia kerja alias menganggur. Diperkirakan jumlah mereka pada 2007 meningkat lebih tinggi, karena data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Februari 2007 sudah menunjukkan angka 740.206 orang. Jumlah terbesar adalah dari lulusan universitas.
Setiap tahun para lulusan perguruan tinggi ini memasuki dunia kerja. Harapan mereka untuk segera memperoleh pekerjaan yang layak selalu dibalut kecemasan jika ternyata dirinya akan semakin menambah panjangnya daftar “orang nganggur”.
Optimisme memang harus dibangun. Akan tetapi realitas yang ada pun tak bisa disembunyikan. Sederet problem ketenagakerjaan yang menjadi penyakit lama negeri ini belum juga tampak ada tanda-tanda menuju kondisi yang lebih cerah dan menjanjikan. Angka pengangguran di Indonesia sudah sangat memprihatinkan, 54 persen dari angkatan kerja, yakni sekitar 50 juta jiwa. Dari jumlah itu, 60 persen (sekitar 30 juta jiwa) terkategori pengangguran terdidik, termasuk sarjana.
Kenapa bisa begitu banyak pengangguran? Sebenarnya banyaknya pengangguran ini paling tidak berpangkal pada tiga hal. Pertama, banyak angkatan kerja baru yang setiap tahun mengalir, namun tidak tertampung dalam dunia kerja. Keadaan demikian yang terus-menerus telah menghasilkan tumpukan pengangguran. Ditambah lagi dengan persoalan kedua, yaitu adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi mereka yang memang sebelumnya bekerja. Ketiga, kebanyakan orang tidak dapat berusaha mandiri akibat tidak memiliki modal, lahan maupun keahlian, kesempatan.
Persoalan pertama dimungkinkan karena tidak seimbangnya penawaran tenaga kerja dengan kebutuhan. Baik karena sempitnya lapangan kerja ataupun tidak sesuainya keahlian yang ditawarkan oleh pencari kerja dengan keahlian yang diperlukan dunia kerja. Tentu hal ini merupakan dampak dari kebijakan yang mendahulukan pertumbuhan ekonomi daripada pemerataan, sehingga yang tumbuh bukanlah perkembangan ekonomi rakyat, melainkan konglomerasi oleh segelintir
Komentar
Posting Komentar