pengangguran sarjana, bom waktu

Menurut anggota Komisi XI DPR, Kemal Azis Stamboel menilai, di Jakarta, menyebutkan, angkatan kerja di Indonesia mengalami pertambahan yang besar setiap tahun. Tahun 2011 ini saja diperkirakan mencapai 3,4 juta orang. Berdasarkan data BPS, jumlah pengangguran di Indonesia pada Februari 2011 mencapai 8,12 juta orang atau menurun 470 ribu orang dibandingkan Februari 2010 yang sebanyak 8,59 juta orang. Penurunan ini belumlah signifikan. Jumlah pengangguran ini belum termasuk penganggur yang berpendidikan di bawah satjana dan Diploma. Kenyataannya berdasarkan data BPS, pada Februari 2011 pekerja pada jenjang pendidikan SD ke bawah sebesar 55,1 juta orang (49,53%) dan SMP 21,22 juta orang (19,07%). Sedangkan jumlah pekerja dengan pendidikan Diploma hanya sebesar 3,3 juta orang (2,98%) dan pekerja dengan pendidikan Sarjana sebesar 5,5 juta orang (4,98%).

Nah, dapat dibayangkan bahwa dengan semakin membludaknya lulusan uiversitas yang berkapasitas serba tanggung, yang hanya mengandalkan IPK tinggi, dan tidak aplikatif, membuat mereka semakin sulit bersaing dalam merebut lapangan pekerjaan di dalam masyarakat. Para sarjana baru itu akan semakin lelah menenteng ijazah sarjana yang dipegang, karena untuk mendapatkan sebuah pekerjaan tidak sedkit orang yang mengandalkan sejumlah uang pelicin agar bisa lulus dan diterima menjadi PNS. Terbukti, kapasitas yang dimilikinya tidak menjamin bisa bekerja.

Ketika, mereka tidak mampu bersaing beredbut dunia kerja dengan objektif, pilihan yang terbaik adalah memilih pekerjaan apa adanya, yang penting dapat kerja, walau tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dilalui. Bukan hanya itu, ujung-ujungnya mereka mejandi penganggur intelek tanggung. Lebih parah lagi sarjana yang perempuan. Mereka sangat mudah terkubur sebagai penganggur dan kembali ke dapur, sebagaimana kebanyakan perempuan lain yang selama ini diposisikan pada posisi sumur, dapur kasur. Ironis bukan?

Agaknya, masalah meningkatnya jumlah lulusan dan angka pengangguran di Aceh dan di tanah air, harus segera diatasi. Kalau tidak ini akan menjadi bom waktu, yang tiba-tiba meledak menjadi persoalan sosial.Mengatasi masalah pengangguran intelektual di Aceh dan di Indonesia, tidak seperti membuat jingle iklan di pasar kerja atau job fair. Mengurangi angka pengangguran diperlukan kerja keras, bukan hanya pemerintah, tetapi juga para pencari kerja sendiri. Kita berharap agar pemerintah mampu menyediakan lapangan pekerjaan dengan mengembangkan sector-sektor kerja selain PNS dengan menyiapkan regulasi yang bisa menjamin ketersediaan lapangan kerja. Semetara, para sarjana pencari kerja, harus berupaya membangun kapasitas diri dengan pengetahuan dan ketrampilan yang cukup untuk bekerja. Sekaligus, merubah cara pandang yang PNS sentris ke bisnis oriented, menciptakan lapangan kerja sendiri. Tentu saja, Universitas jangan hanya bisa menelurkan sarjana-sarjana kacangan yang akan terkubur dalam dunia pengangguran.

Bila ini dilakukan bersama, maka kita akan mampu mengolah segala sumber daya alam yang kita miliki untuk menciptakan lapangan kerja sendiri, serta membangun kemandirian ekonomi daerah. Sehingga, pemerintah daerah tidak perlu selalu berteriak memanggil para investor dari luar negeri untuk mengeksploitasi semua sumber daya alam kita. Mari kita mulai perubahan itu, agar tidak terkubur menjadi penganggur. Pasti bisa,



Terselubung Menyimpan 'Bom Waktu'



Komentar